Tuesday, March 30, 2010

Bala Bantuan Dari Jakarta, by Pandji Pragiwaksono

Beberapa hari yang lalu, mungkin malah beberapa minggu yang lalu, gue jadi salah seorang peserta presentasi di IGNITE JAKARTA.

Sebuah event dimana orang diminta untuk melakukan presentasi, 20 slide, masing masing slide secara otomatis akan maju dalam 15 detik. Jadi total 5 menit.

Its a bit tricky.

Ada beberapa orang yang presentasi, kebanyakan memang gue tidak lihat karena harus pergi untuk siaran, tapi menurut gue dari yang gue liat, yang paling inspiratif adalah presentasi dari @ramyaprajna

Rama sebenarnya mungkin ingin menerangkan tentang apa itu IGNITE, tapi bersamaan dengan itu, dia juga cerita alasan kenapa dia dan perusahaannya Think.Web memutuskan untuk bikin acara itu.

Rama lalu cerita bahwa di dunia ini ada banyak sekali event yang digagas online.

Twestival, Pecha Kucha, Ignite adalah beberapa diantaranya.

Metodanya, sederhana sekali.

Kurang lebihnya DIY atau Do It Yourself.

Biasanya untuk setiap event, baik itu Twestival (festival pengguna twitter yg bertujuan amal) ataupun IGNITE ada sebuah situs pusat yang menerangkan

  1. Apa acara itu sebenarnya
  2. Teknis pelaksanaan acara itu
  3. Bagaimana cara membuat acara itu di kota anda

Lalu mereka mempersilahkan apabila si pembaca mau bikin acara tersebut di kotanya masing masing, dengan mendaftarkan kotanya tsb ke situs pusat tadi.

Lalu biasanya, di setiap situs situs itu, ada peta dunia dengan titik titik merah sebagai penanda bahwa kota tsb berencana/sudah membuat acara terkait. Twestival, IGNITE, PechaKucha, apapun.

Rama bercerita, bahwa diantara titik titik merah itu, tidak ada titik merah di Indonesia

Semua benua ada titik merahnya, kecuali Indonesia.

Bahkan, didalam slidenya ada sebuah peta dari situs seperti dimaksud diatas yang TIDAK ADA GAMBAR INDONESIAnya..

Rama lalu punya misi kecil yang keren.

Memasang sebuah titik merah di Indonesia utk event event tsb.

Tahun lalu, dia membuat Twestival Jakarta di FX dimana uangnya disumbangkan utk Desa Waikokak NTT. Ada Glenn Fredly, Sandhy Sundhoro, Barry Likumahuwa Project, Endah N Rhesa, Bandanaira, gue, dll…

Tahun lalu, Indonesia masuk dalam peta twestival dunia.

Tahun ini, dia juga bikin IGNITE di Jakarta, Indonesia dan menambah titik merah dalam peta IGNITE dunia.

Tujuannya sederhana, tapi misinya luarbiasa.

Tujuan akhirnya adalah menghadirkan eksistensi INDONESIA dalam ajang ajang dunia.

Mendekati akhir presentasi Rama, dia bilang, “Harusnya di Indonesia ada beberapa titik. Bukan di Jakarta aja.. Gampang kok”

Keren.

Kebanyakan orang, menunggu dibikinin acara.

Tapi sebenarnya, mereka bisa bikin acara sendiri sendiri.

Itulah sebenarnya semangat IndonesiaUnite. Semangat menciptakan perubahan.

IndonesiaUnite itu bukan organisasi, bukan gerakan.

IndonesiaUnite itu hanyalah sebuah semangat untuk menciptakan perubahan yang baik untuk Indonesia.

BERKARYA.

TIDAK MENUNTUT, TIDAK MEMINTA.

Susahnya, Indonesia memang rada rada manja.

Dibalik kerasnya orang orang demo di jalanan, sebenarnya mereka menunjukkan kemanjaan mereka.

Kenapa orang demo dan bahkan anarkis disebut manja?

Karena mereka Cuma bisa menuntut perubahan, tanpa mau menciptakan perubahan itu sendiri.

Teriak teriak “HOY PEMERINTAH! WUJUDKANLAH KESEJAHTERAAN UTK RAKYAT”

Padahal, mereka bisa menciptakannya itu sendiri. Kalau mereka mau usaha, mau berpikir, mau kerja keras.

Tapi tidak.. mereka ga mau kerja, mereka mau orang lain yang mengerjakan.

Manja.

Kemanjaan itu tidak terasa, tapi ada.

Waktu Java Jazz ramai di timeline orang orang di twitter, ada beberapa nada nada sumbang dari kota kota lain

“Enak ya Jakarta dibikinin event kayak gitu… kota lain ga pernah… “

Gue bereaksi kepada mereka dengan menjawab “Ya elo bikin dong sendiri…”

Jawaban mereka “Mana mungkin bisa ?”

Ya jelaslah ga bisa, wong elonya sendiri ga percaya kalau elo bisa.

Ada yang bilang “Mana bisa kita bikin sebesar JJF?”

Jawaban gue “Ya Java Festival Production, yang mengerjakan JJF juga dulunya memulai dari sesuatu yang keciiiiiil”

Jangan tiba tiba ingin bisa bikin event yang besar. Mulailah dari yang kecil. Maunya instan instan aja siiiih… Kalau elo mau bisa bikin event gede, MULAI dari sekarang.

Starting, is everything.

Mulai aja dulu.

Elo akan gagal, elo akan belajar, dan kalau elo teguh, elo akan berusaha lagi, dan lagi…

Teman gue @mainbasket berujar bahwa kemampuan orang orang di kota kota selain Jakarta tidak sehebat orang orang di Jakarta. Gue menyatakan tidak setuju.

Kehebatan itu sangat relatif, mungkin di Jakarta orang orang hebat dalam bikin event Jazz, tapi hidup ini kan tidak hanya event jazz..

Buktinya Bandung bisa bikin festival clothing terbesar di Indonesia KICKS. Jakarta ga ada tuh kayak gitu.

Buktinya anak anak di Laskar Pelangi, asli Belitung, beberapa bahkan tidak tahu apa itu bioskop bisa akting jauuuuuh lebih bagus daripada anak anak yang mengaku aktor dan aktris di Jakarta…

Buktinya Surabaya bisa bikin DBL dan DBL adalah satu satunya kompetisi di Indonesia yang didatangi NBA. Sementara DBL itu kelasnya SMA.

Karena DBL, Surabaya kini pusatnya basket Indonesia.

Tapi ada ucapan @mainbasket yang gue akui kebenarannya. Harusnya orang orang Jakarta (yang sebenarnya pendatang dari kota lain juga) yang sudah berprestasi dan berilmu, pulang ke daerah asalnya dan membangun. Atau setidaknya membagi ilmu. Seperti yang Glenn lakukan dengan pindah ke Ambon dan melihat Indonesia dari timur.

Masalahnyaaa, orang seperti Glenn yang sudah menemukan kemapanan dari muda itu sangat jaraaang.

Gue takutnya, orang orang di daerah lain menunggu kedatangan saudaranya yang di Jakarta untuk membantu mereka.

Sementara, saudaranya itu tidak datang datang. Dan kalau mereka hanya mengandalkan saudaranya yang di Jakarta, bisa bisa mereka tidak beranjak kemana mana.

Gue sudah keliling Indonesia

Mungkin gue sudah datang ke lebih banyak kota dari pada elo.

Ada beberapa kota yang tingkat kelulusannya rendah.

Orang setempat menjawab, banyak yang tidak mau melanjutkan kuliah karena menurut mereka, ilmu yang mereka dapatkan dari kuliah, tidak ada gunanya kalau tidak digunakan di Jakarta.

Sementara, mereka tidak punya uang untuk bisa ke Jakarta, atau tidak bisa meninggalkan orangtuanya yang sudah sepuh untuk ke Jakarta.

Buat apa kuliah kalau saya hanya akan menghabiskan hidup saya disini.

Maka mereka kemudian tidak melanjutkan kuliah.

Bayangkan….

ANDAI saja mereka PERCAYA bahwa dengan ilmu mereka , mereka BISA melakukan sesuatu yang penting dan besar di daerah masing masing.

ANDAI mereka PERCAYA bahwa mereka BISA berkarya di daerah masing masing.. bisa jadi mereka jadi kembali semangat untuk melanjutkan kuliah.

Sesungguhnya, mereka memang bisa.

Tahun lalu ada AMBON JAZZFEST diselenggarakan untuk pertama kalinya.

Dari laporan orang orang yang manggung, katanya acaranya berantakan. Jadwal ga jelas, pembatalan mendadak, mati lampu, dll… Tapi dibalik semua itu, ada sebuah semangat untuk berusaha dan belajar, dan kalau mereka masih tinggi semangatnya, tahun ini mereka akan kembali.

Acungan jempol juga untuk mahasiswa IM TELKOM Bandung yang sempat semangat mengajak gue, Glenn dan Barry untuk menggelar Tour IndonesiaUnite. Sebuah usulan yang muncul dari tweetnya Glenn Fredly.

Yang punya ide, entah kenapa tidak pernah ngomongin lagi… sibuk mungkin hehehe

Tapi anak anak IM TELKOM memilih untuk menciptakan sendiri acara tsb tanpa menunggu dan menuntut dari kami..

Tgl 13 maret, mereka berhasil menjadikan #tourindonesiaunite jadi trending topics. Sebuah usaha yang menurut gue bukan untuk menarik perhatian dunia, tapi untuk menarik perhatian masyarakat kita sendiri :)

Mereka bikin kaos untuk mencari dana awal operasional mereka.

Kini mereka sudah mulai berjuang. Gue mendoakan yang terbaik untuk mereka.

HARI INI…

Gue sudah melihat matahari terbit di sejumlah kota di Indonesia

Gue sudah mandi dengan air dari banyak kota di Indonesia

Gue sudah bermalam di banyak kota di Indonesia

Cukup untuk tahu, bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, adalah keyakinan bahwa mereka bisa menciptakan sesuatu di masing masing daerahnya. Dengan itu, rasa sirik karena tidak dibikinin acara akan hilang.

Tanpa harus meminta minta…

Tanpa harus menunggu bala bantuan dari Jakarta

-----

Visit: www.pandji.com


Sunday, March 21, 2010

Peran & Pengaruh Konten Lokal Terhadap Pendidikan Di Indonesia

Arikel yang saya tulis kali ini sesuai dengan yang ada diatas, Peran & Pengaruh Konten Lokal Terhadap Pendidikan Di Indoensia, yak benar sekali disini saya akan membahas dan membuat sebuah tanggapan serius terhadap konten-konten lokal yang ada di Indonesia, apakah di Negara yang kita cintai ini para mediator di Indonesia sanggup mendidik bangsa dan rakyatnya menjadi lebih baik, menajdi pribadi yang lebih berguna dan tidak hanya menjadi sampah masyrakat pada akhirnya.

Akhir-akhir ini kita sering melihat di Televisi banyak yang menayang suguhan acara musik yang disiarkan secara langsung pada pagi hari yang melibatkan banyak anak-anak remaja (ABG), yang menjadi pertanyaan saya, apa para remaja itu tidak sekolah? Apa sengaja bolos demi masuk tv? Seharusnya mereka ada di sekolah-nya masing-masing untuk belajar menuntut ilmu. Menurut saya ini adalah pembodohan masyarakat terhadap tayangan konten lokal yang jika dibiarkan, kedepannya remaja kita tidak punya masa depan kalau hanya bolos demi mengikuti acara itu. Hal ini seharusnya dipikirkan oleh stasiun tv yang bersangkutan, apakah mereka bisa menggatikan pelajaran-pelajaran di sekolah dengan acara-acara seperti itu? Menurut saya, stasiun-stasiun tv yang menonjolkan acara-acara itu hanya target pasar belaka. Hanya sepintas, tapi sangat melenceng jauh dari visi dan misi stasiun tersebut yang kebanyakan menargetkan menjadi televisi edukasi yang bisa jadi contoh.

Stasiun televisi yang menurut saya "stick to the target" adalah MetroTV, saluran televisi menyajikan konten-konten yang sangat medidik, dan bisa menjadi kiblat televisi edukasi. Contoh program yang mereka andalkan adalah "Kick Andy". Program ini seperti halnya talk show kebanyakan, sharing-sharing pengalaman, segala macam. Tapi konsep-nya itu tetap selalu ditonjolkan, kasarnya "pokoknya kalo abis nonton itu, pasti jadi ada kesan gimana gitu", Terinspirasi, yak terinspirasi. Program ini sangat menonjolkan bagaimana sesorang berusaha keras from zero to hero, dan akhirnya bisa meraih kesuksesannya, serta masih banyak lagi cerita-cerita dan pengalaman yang inspiratif yang di share di acara ini. Dikaitkan dengan konten lokal serta perannya, acara-acara yang seperti ini yang seharusnya disajikan di stasiun-stasiun tv di Indonesia, yang bisa membuat penontonnya terinspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berguna.

Konten lokal di Indonesia sangatlah berpengaruh, kenapa? Karena sebagian besar penduduk di Indonesia belajar dari konten lokal yang disajikan dari luar. Pada dasarnya Rakyat Indonesia adalah orang-orang yang memiliki potensi besar untuk menguasai pasar di bidang apapun dengan pendidikan dan pengalaman yang mereka dapat saat hidup di Indonesia. Masalahnya apakah kita akan membiarkan potensi ini semua dinikmati oleh industri asing yang kuat? Atau kita masih punya semangat dan ambisi untuk berjuang di sini. Kita punya peluang untuk memasuki potensi-potensi itu. Kalau tidak sekarang, lantas mulai kapan? Kita harus berjuang matian-matian untuk menembus dan menguasai potensi-potensi dalam mengambangkan konten-konten lokal kita untuk menyaingi industri-industri besar yang selama ini menghegemoni kehidupan kita di Indonesia.

Selain itu, persolan yang sering mengganjal orang Indonesia adalah lemah di tataran ide produk dan inovasi, kurangnya sarana penghubung dengan pihak yang membutuhkan dan kurangnya keterlibatan pemerintah untuk melindungi pengembang. Sebenarnya kalau melihat lebih dalam, banyak sekali yang sudah memulainya selain MetroTV ada juga beberapa TV lokal yang memang tujuannya untuk mendidik rakyat Indonesia menjadi lebih baik. Tetap pada sepotong kata-kata yang sangat penting dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu "..., Mencerdaskan Kehidupan Bangsa,...".

Contoh lain yang sedang marak adalah Multimedia Content dan Edutainment. Ini diam-diam Indonesia termasuk jagonya. Mobile content kita marak, multimedia pendidikan juga makin heboh. Produk buatan IlmuKomputer.Com (Brainmatics) sudah masuk ke bank-bank asing, perusahaan asing, perusahaan penerbangan, perusahaan perkebunan, universitas, sma/smk dan juga pastinya adalah TV edukasi. Nah, potensi-potensi itu bisa dijadikan modal untuk mempertahankan atau menjadi daya saing bangsa Indonesia ditengah-tengah kompleksitas dunia, jikalau kita mau lebih merapat dan saling koordinasi untuk belajar lebih giat dan mengembangkan konten-konten lokal itu, daya saing Indonesia sulit diterpa oleh mata dunia. Kita akan kokoh mengembangkan ciri khas dan identitas keindonesiaan.

Konten-konten lokal, baik yang berisi tentang informasi, pendidikan atau hanya sekedar game yang berbasis keindonesiaan bisa dikonsumsi oleh bangsa Indonesia sendiri, atau tidak menutup kemungkinan jika disebarkan ke luar negeri melalui pasar internet. Dengan cara ini, semua aspek kebudayaan, kesenian, pendidikan yang asli dimiliki dan berasal dari Indonesia dengan ciri khas budi pekertinya dapat ditawarkan di luar dengan mudah kalau menggunakan akses internet. Kalau konten-konten lokal itu sudah mendunia dan berpengaruh, saya yakin daya saing bangsa Indonesia akan tegar, tidak menutup kemungkinan mata dunia akan berguru kepada kita tentang isi dan hakekat yang kita miliki.

Setidaknya perjuangan membangun local content (konten lokal) ini adalah juga perjuangan penyelamatan generasi. Menyelamatkan para anak muda kita dari konten-konten yang tidak mendidik di Internet dan seluruh media elektronik maupun cetak. Ketika Internet, tv, media elektronik dan cetak lainnya kita penuhi konten-konten pendidikan, karier, peningkatan ilmu dan skill tentu lambat laun konten pornografi dan cracking akan terhapuskan. Satu hal lagi yang menarik, realita membuktikan, bahwa pendataran dunia oleh Internet membuat perubahan di dunia memungkinkan dilakukan oleh individu (komunitas kecil), dan bukan lagi monopoli negara atau konglomerasi besar.

Ayo kita mulai kawan...!!!

Selamatkan dan tegarkan bangsa kita..!!! dari diri sendiri dan sekarang.

Tuesday, March 16, 2010

Edutainment Di Indonesia

Definisi Edutainment itu sendiri terdiri dari penggabungan kata antara Education (Edukasi) dan Entertainment (Hiburan). Edukasi atau biasa disebut juga pendidikan yang saya kutip dari wikipedia adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sedangkan Entertainment dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan segala sesuatu – baik yang berbentuk kata-kata, tempat, benda, perilaku – yang dapat menjadi penghibur atau pelipur hati yang susah atau sedih (wikipedia). Pada umumnya hiburan dapat berupa musik, film, opera, drama, ataupun berupa permainan bahkan olahraga. Berwisata juga dapat dikatakan sebagai upaya hiburan dengan menjelajahi alam ataupun mempelajari budaya. Mengisi kegiatan di waktu senggang seperti membuat kerajinan, keterampilan, membaca juga dapat dikatagorikan sebagai hiburan bagi orang tertentu yang memiliki sifat workaholic, bekerja adalah hiburan dibandingkan dengan berdiam diri. Jadi dapat disimpulkan bahwa Edutainment adalah suatu Program atau kegiatan yang intinya adalah mengajak orang untuk belajar sekaligus menikmati hiburan dalam satu kegiatan.

Edutainment ini juga sudah banyak diusung oleh beberapa TV lokal tetapi mungkin masih tersegmentasi untuk program acara yang disajikan contohnya saluran tv luar Nickelodeon yang bekerja sama dengan Global TV Indonesia dengan menayangkan Program-program acara seperti SpongeBob, Dora The Explorer, dll. Yang intinya, mengajak anak-anak umur balita sampai 10 tahun belajar sambil bermain.

Aspek pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Neil Postman sebenarnya dapat dikemas menarik sehingga dapat dijual kepada publik. Banyak bahan-bahan yang bisa diangkat dari keragaman suku dan budaya di Sumut dalam bentuk informasi pendidikan yang menghibur (edutainment). Para pengelola televisi lokal dapat memanfaatkan tenaga-tenaga lokal mulai dari budayawan, seminan, jurnalis, dan lain sebagainya untuk mengisi program tayangan televisi yang lebih ramah anak dan keluarga. Televisi lokal dapat meniru apa yang telah dilakukan oleh salah satu televisi lokal lainnya yang ada di Indonesia yang menyajikan tayangan dengan sangat baik dan sarat dengan nilai-nilai religi, moral, motivasi, pendidikan dan dan hiburan.

Saya yakin warga Indonesia akan lebih menghargai karya-karya yang lebih menonjolkan aspek moral, humanis dan pendidikan ketimbang menonjolkan aspek kekerasan, hedonisme, cabul, pornoaksi, pergunjingan, dan lain sebagainya. Para pengelola televisi juga tentunya punya keluarga yang pastinya tidak mau jika keluarganya juga meniru dari tayangan buruk yang mereka sajikan. Apabila para pengelola televisi lokal itu dapat merespon kebutuhan publik terhadap tayangan yang baik, saya berkeyakinan demokratisasi di bidang penyiaran itu akan memberikan dampak positif pula bagi industri penyiaran dan juga untuk masa depan yang lebih baik untuk anak-anak bangsa kita, Indonesia yang masih berkembang menjadi orang-orang hebat yang bisa membanggakan negara kita.

Thursday, March 11, 2010

Jokes

Dapet dari broadcast messages di bbm nih...

Ada 2 pace, 1 dari Sorong, 1 lagi dari Merauke.
Dorang 2 bakalai sampe cape. Akhirnya dorang 2 baku malawang.

Pace Sorong: "We ko orang Merauke, ko jangan coba-coba ke Jakarta lewat Sorong e?!!!

Lalu Pace Merauke balas: "Iya tra apa-apa sudah, tapi ko ingat kalau hari senin upacara ko jang coba-coba nyanyi lagu dari sabang sampe merauke, ko stop saja di Sorong!!!

Thursday, March 4, 2010

Sanggupkah Indonesia Menghadapi Masa Depan Yang Modern & Berbasis Teknologi Yang Mudah Di Akses?

Menurut saya pada zaman globalisasi ini, perkembangan teknologi di Indonesia sangat pesat, sementara itu perkembangan sendiri di Indonesia tidak bias terkontrol oleh Pemerintah Indonesia sendiri. Sebenarnya sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah merencanakan langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi hal ini. Salah satunya adalah masyarakat Indonesia belum paham betul mengenai pengertian telematika secara filosofis, masih hanya cenderung mengerti dari sisi teknologinya saja. Benar dikatakan Bapak Hilman, semua orang tidak ingin ketinggalan zaman, jadilah semua pebisnis dan masyarakat beramai-ramai mempromosikan produk baru dan membelinya.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri lebih dari 10000 pulau, nah disni merupakan celah yang di gunakan untuk para pebisnis untuk dijadikan lahan bisnis. Untuk komunikasi antar pulau, dibutuhkan teknologi, maka demi memudahkan komunikasi produk-produk baru dengan spesifikasi teknologi yang tinggi-pun keluar berturut-turut. Tapi pebisnis terkadang tidak membaca apa yang dibutuhkan masyarakat-masyarakat Indonesia untuk mempurmudah komunikasi mereka. Asal laku, pebisnis pun akan terus mengeluarkan produksi-produksi baru. Bangsa Indonesia saat ini dalam masa metamorphosis teknologi, jadi tidak heran teknologi yang sekarang berkembang di Indonesia turut silih berganti, dalam jangka waktu paling cepat 1 bulan, tapi terkadang ada yang tidak berpikir secara financial.

Di dalam hal ini, bangsa Indonesia masih rentan jatuh ke dalam krisis ekonomi lagi yang sebelumnya terjadi pada tahun 1998 di era Reformasi. Kondisi ini sangat kritis apabila masyarakat-masyarakat Indonesia terus memakasakan masuk-nya teknologi-teknologi baru ke Indonesia demi memudahkan cara mereka berkomunikasi. Yang saya sarankan disini adalah janganlah tergesa-gesa dengan munculnya teknologi baru di luar Indonesia, gunakanlah dan kembangkanlah teknologi itu sebaik mungkin, tersadar dari Masyarakat kita yang sangat konsumtif, harusnya Pemerintah harus lebih tegas dalam memfilter teknologi-teknologi tersebut. Dan juga sebenarnya Indonesia sudah mampu dalam menghadapi masa depan yang modern & berbasis teknologi yang mudah di akses, asal masyarakat Indonesia memang siap untuk menghadapi hal ini. Anda sudah siap?


Andi Adri Antasari

Thursday, June 11, 2009

Fotografi Jurnalistik sebagai Media Komunikasi

"Any photojournalists who do the job for the sake of money.
They do it to communicate"


Fotografi jurnalistik muncul dan berkembang di dunia sudah lama sekali, tetapi lain halnya dengan di Indonesia, foto pertama yang di buat oleh seorang warga negara Indonesia terjadi pada detik-detik ketika bangsa ini berhasil melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei, dan adiknya sendiri Frans Soemarto Mendur (1913-1971), mengabadikan peristiwa pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia dengan kamera Leica, dan pada saat itulah pada pukul 10 pagi tanggal 17 Agustus 1945 foto jurnalis Indonesia lahir.

Sebagai media komunikasi, foto jurnalistik masih tergolong muda usia. Media komunikasi yang mulai mengusung foto sebagai sajian utamanya adalah majalah Life sekitar tahun 30-an. Life dianggap sebagai media perintis kemajuan fotojurnalistik lewat lembaran halaman majalah yang sarat dengan foto-foto berkualitas. Media ini kemudian melahirkan fotografer dunia seperti Robert Capa.

Di Indonesia, pertumbuhan jurnalisme foto beriringan dengan perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Rekaman gambar proklamasi kemerdekaan RI atau sekuen penyobekan bendera Belanda menjadi sang saka merah putih adalah imaji-imaji yang telah menjadi ikon-ikon dalam sejarah Indonesia.

Gambar-gambar bersejarah tersebut bukan cuma hasil kegigihan sebuah sikap atau keberuntungan belaka, tapi juga dimungkinkan berkat kemunculan suatu formasi profesional yang dilandasi ketrampilan khusus, kecekatan, wawasan, keberanian dan komitmen yang mendalam.

Alex Mendur beserta rekan-rekannya di IPPHOS dan Abdoel Wahab, sang perekam peristiwa penyobekan bendera adalah pewarta visual Indonesia pertama yang digembleng pendidikan kejuruan formal belanda dan Jepang, diasah oleh semangat kemerdekaan dan dibentuk dalam medan pertempuran.

Definisi fotografi dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan.

Ciri-ciri foto jurnalistik:
1.Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.
2.Melengkapi suatu berita/artikel.
3.Dimuat dalam suatu media.

Sebuah foto dapat berdiri sendiri, tapi jurnalistik tanpa foto rasanya kurang lengkap, mengapa foto begitu penting ?
Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa.

Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi (Kartono Ryadi, Editor foto harian Kompas). Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalis berarti memilih foto mana yang cocok. ( ex: di dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memfoto seluruh peristiwa dari mulai penerimaan tamu sampai selesai, tapi seorang wartawan foto hanya mengambil yang menarik, apakah public figure atau saat pemotongan tumpeng saat tumpengnya jatuh, khan menarik) hal lain yang membedakan antara foto dokumentasi dengan foto jurnalis hanya terbatas pada apakah foto itu dipublikasikan (media massa) atau tidak.

Nilai suatu foto ditentukan oleh beberapa unsur:
1. Aktualitas.
2. Berhubungan dengan berita.
3. Kejadian luar biasa.
4. Promosi.
5. Kepentingan.
6. Human Interest.
7. Universal.

Foto jurnalistik terbagi menjadi beberapa bagian:
1. Spot news : Foto-foto insidential/ tanpa perencanaan. (ex: foto bencana, kerusuhan, dll).
2. General news : Foto yang terencana (ex : foto SU MPR, foto olahraga).
3. Foto Feature : Foto untuk mendukung suatu artikel.
4. Esai Foto : Kumpulan beberapa foto yang dapat bercerita.

Foto yang sukses
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari being in the right place at the right time. Tetapi seorang jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek,mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya (antisipasi). Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali. Etika, empati, nurani merupakan hal yang amat penting dan sebuah nilai lebih yang ada dalam diri jurnalis foto. Seorang jurnalis foto harus bisa menggambarkan kejadian sesungguhnya lewat karya fotonya, intinya foto yang dihasilkan harus bisa bercerita sehingga tanpa harus menjelaskan orang sudah mengerti isi dari foto tersebut dan tanpa memanipulasi foto tersebut.

Lebih dari Sekadar Foto
Pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa disebut sebagai foto jurnalistik, termasuk foto-foto peristiwa yang tampil di media maya seperti internet.Artinya semua produk foto yang mempunyai nilai berita bisa disebut sebagai foto jurnalistik.Foto launching produk rokok misalnya, jika diekspose untuk kepentingan umum juga termasuk dalam foto berita atau fotojurnalistik.

Namun dalam perkembangannya, kebutuhan foto jurnalistik tidak berhenti untuk kepentingan pemberitaan.Produk foto bernilai berita kini juga tampil dalam pameran-pameran foto atau lomba foto.

Sama seperti sebuah laporan tertulis, foto hasil belanjaan fotografer di lapangan juga memerlukan serangkaian proses pengolahan di meja redaksi.Pertimbangan layak siar sebuah foto berita juga meliputi unsur informatif, kehangatan, faktual, relevan, misi serta eksklusif.
Kenneth Kobre dalam Photojournalism, mencontohkan apa yang diterapkan Washington Post dalam mengkategorikan sebuah foto berita, yaitu: informational, graphically appealing, emotional dan intimate. Artinya sebuah foto harus dapat menjawab rasa kehausan informasi sekaligus menyentuh nilai kemanusiaan yang terpenuhi berdasarkan standar kecepatan untuk merekam peristiwa serta menyampaikan isu dan kekuatan grafis.

Untuk sebuah media intern, keberadaan sebuah foto juga sangat penting layaknya media umum lainnya. Foto kegiatan perusahaan umumnya dipotret dengan sudut pengambilan dan kemasan yang sederhana bahkan monoton. Tidak ada salahnya jika foto-foto yang tampil di media intern dikemas secara lebih baik. Bagaimanapun juga media intern tersebut suatu saat juga akan dibaca oleh khalayak lain. Tentang bagaimana mengemas foto untuk media intern akan dijelaskan dalam kegiatan praktek nanti. Atau bisa dilihat dalam beberapa contoh ini.

Satu hal lagi yang secara ideal harus dikandung oleh sebuah foto berita, yaitu orisinal dan bukan hasil rekayasa termasuk rekayasa komputer grafis. Namun untuk kepentingan kaver sebuah majalah atau media intern, pemakaian komputer grafis terhadap foto adalah pertimbangan tersendiri dengan tujuan estetika untuk menarik pembaca.

Seperti diuraikan di atas bahwa pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa adalah foto jurnalistik. Namun, tidak semua foto yang tampil di mendia massa itu memiliki bobot berita yang meliputi unsur 5 W+ 1 H. Tidak jarang sebuah foto hanya memiliki unsur 3W atau 4W tanpa 1H sehingga diperlukan teks foto untuk melengkapi unsur nilai beritanya.

Hunting Capture 1 (Landscape Photography) : Tangkuban Perahu






Followers