Thursday, June 11, 2009

Fotografi Jurnalistik sebagai Media Komunikasi

"Any photojournalists who do the job for the sake of money.
They do it to communicate"


Fotografi jurnalistik muncul dan berkembang di dunia sudah lama sekali, tetapi lain halnya dengan di Indonesia, foto pertama yang di buat oleh seorang warga negara Indonesia terjadi pada detik-detik ketika bangsa ini berhasil melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei, dan adiknya sendiri Frans Soemarto Mendur (1913-1971), mengabadikan peristiwa pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia dengan kamera Leica, dan pada saat itulah pada pukul 10 pagi tanggal 17 Agustus 1945 foto jurnalis Indonesia lahir.

Sebagai media komunikasi, foto jurnalistik masih tergolong muda usia. Media komunikasi yang mulai mengusung foto sebagai sajian utamanya adalah majalah Life sekitar tahun 30-an. Life dianggap sebagai media perintis kemajuan fotojurnalistik lewat lembaran halaman majalah yang sarat dengan foto-foto berkualitas. Media ini kemudian melahirkan fotografer dunia seperti Robert Capa.

Di Indonesia, pertumbuhan jurnalisme foto beriringan dengan perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Rekaman gambar proklamasi kemerdekaan RI atau sekuen penyobekan bendera Belanda menjadi sang saka merah putih adalah imaji-imaji yang telah menjadi ikon-ikon dalam sejarah Indonesia.

Gambar-gambar bersejarah tersebut bukan cuma hasil kegigihan sebuah sikap atau keberuntungan belaka, tapi juga dimungkinkan berkat kemunculan suatu formasi profesional yang dilandasi ketrampilan khusus, kecekatan, wawasan, keberanian dan komitmen yang mendalam.

Alex Mendur beserta rekan-rekannya di IPPHOS dan Abdoel Wahab, sang perekam peristiwa penyobekan bendera adalah pewarta visual Indonesia pertama yang digembleng pendidikan kejuruan formal belanda dan Jepang, diasah oleh semangat kemerdekaan dan dibentuk dalam medan pertempuran.

Definisi fotografi dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan.

Ciri-ciri foto jurnalistik:
1.Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.
2.Melengkapi suatu berita/artikel.
3.Dimuat dalam suatu media.

Sebuah foto dapat berdiri sendiri, tapi jurnalistik tanpa foto rasanya kurang lengkap, mengapa foto begitu penting ?
Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa.

Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi (Kartono Ryadi, Editor foto harian Kompas). Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalis berarti memilih foto mana yang cocok. ( ex: di dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memfoto seluruh peristiwa dari mulai penerimaan tamu sampai selesai, tapi seorang wartawan foto hanya mengambil yang menarik, apakah public figure atau saat pemotongan tumpeng saat tumpengnya jatuh, khan menarik) hal lain yang membedakan antara foto dokumentasi dengan foto jurnalis hanya terbatas pada apakah foto itu dipublikasikan (media massa) atau tidak.

Nilai suatu foto ditentukan oleh beberapa unsur:
1. Aktualitas.
2. Berhubungan dengan berita.
3. Kejadian luar biasa.
4. Promosi.
5. Kepentingan.
6. Human Interest.
7. Universal.

Foto jurnalistik terbagi menjadi beberapa bagian:
1. Spot news : Foto-foto insidential/ tanpa perencanaan. (ex: foto bencana, kerusuhan, dll).
2. General news : Foto yang terencana (ex : foto SU MPR, foto olahraga).
3. Foto Feature : Foto untuk mendukung suatu artikel.
4. Esai Foto : Kumpulan beberapa foto yang dapat bercerita.

Foto yang sukses
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari being in the right place at the right time. Tetapi seorang jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek,mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya (antisipasi). Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali. Etika, empati, nurani merupakan hal yang amat penting dan sebuah nilai lebih yang ada dalam diri jurnalis foto. Seorang jurnalis foto harus bisa menggambarkan kejadian sesungguhnya lewat karya fotonya, intinya foto yang dihasilkan harus bisa bercerita sehingga tanpa harus menjelaskan orang sudah mengerti isi dari foto tersebut dan tanpa memanipulasi foto tersebut.

Lebih dari Sekadar Foto
Pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa disebut sebagai foto jurnalistik, termasuk foto-foto peristiwa yang tampil di media maya seperti internet.Artinya semua produk foto yang mempunyai nilai berita bisa disebut sebagai foto jurnalistik.Foto launching produk rokok misalnya, jika diekspose untuk kepentingan umum juga termasuk dalam foto berita atau fotojurnalistik.

Namun dalam perkembangannya, kebutuhan foto jurnalistik tidak berhenti untuk kepentingan pemberitaan.Produk foto bernilai berita kini juga tampil dalam pameran-pameran foto atau lomba foto.

Sama seperti sebuah laporan tertulis, foto hasil belanjaan fotografer di lapangan juga memerlukan serangkaian proses pengolahan di meja redaksi.Pertimbangan layak siar sebuah foto berita juga meliputi unsur informatif, kehangatan, faktual, relevan, misi serta eksklusif.
Kenneth Kobre dalam Photojournalism, mencontohkan apa yang diterapkan Washington Post dalam mengkategorikan sebuah foto berita, yaitu: informational, graphically appealing, emotional dan intimate. Artinya sebuah foto harus dapat menjawab rasa kehausan informasi sekaligus menyentuh nilai kemanusiaan yang terpenuhi berdasarkan standar kecepatan untuk merekam peristiwa serta menyampaikan isu dan kekuatan grafis.

Untuk sebuah media intern, keberadaan sebuah foto juga sangat penting layaknya media umum lainnya. Foto kegiatan perusahaan umumnya dipotret dengan sudut pengambilan dan kemasan yang sederhana bahkan monoton. Tidak ada salahnya jika foto-foto yang tampil di media intern dikemas secara lebih baik. Bagaimanapun juga media intern tersebut suatu saat juga akan dibaca oleh khalayak lain. Tentang bagaimana mengemas foto untuk media intern akan dijelaskan dalam kegiatan praktek nanti. Atau bisa dilihat dalam beberapa contoh ini.

Satu hal lagi yang secara ideal harus dikandung oleh sebuah foto berita, yaitu orisinal dan bukan hasil rekayasa termasuk rekayasa komputer grafis. Namun untuk kepentingan kaver sebuah majalah atau media intern, pemakaian komputer grafis terhadap foto adalah pertimbangan tersendiri dengan tujuan estetika untuk menarik pembaca.

Seperti diuraikan di atas bahwa pada dasarnya semua foto yang dimuat di media massa adalah foto jurnalistik. Namun, tidak semua foto yang tampil di mendia massa itu memiliki bobot berita yang meliputi unsur 5 W+ 1 H. Tidak jarang sebuah foto hanya memiliki unsur 3W atau 4W tanpa 1H sehingga diperlukan teks foto untuk melengkapi unsur nilai beritanya.

Hunting Capture 1 (Landscape Photography) : Tangkuban Perahu






My Photographs





Followers