Definisi Edutainment itu sendiri terdiri dari penggabungan kata antara Education (Edukasi) dan Entertainment (Hiburan). Edukasi atau biasa disebut juga pendidikan yang saya kutip dari wikipedia adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sedangkan Entertainment dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan segala sesuatu – baik yang berbentuk kata-kata, tempat, benda, perilaku – yang dapat menjadi penghibur atau pelipur hati yang susah atau sedih (wikipedia). Pada umumnya hiburan dapat berupa musik, film, opera, drama, ataupun berupa permainan bahkan olahraga. Berwisata juga dapat dikatakan sebagai upaya hiburan dengan menjelajahi alam ataupun mempelajari budaya. Mengisi kegiatan di waktu senggang seperti membuat kerajinan, keterampilan, membaca juga dapat dikatagorikan sebagai hiburan bagi orang tertentu yang memiliki sifat workaholic, bekerja adalah hiburan dibandingkan dengan berdiam diri. Jadi dapat disimpulkan bahwa Edutainment adalah suatu Program atau kegiatan yang intinya adalah mengajak orang untuk belajar sekaligus menikmati hiburan dalam satu kegiatan.
Edutainment ini juga sudah banyak diusung oleh beberapa TV lokal tetapi mungkin masih tersegmentasi untuk program acara yang disajikan contohnya saluran tv luar Nickelodeon yang bekerja sama dengan Global TV Indonesia dengan menayangkan Program-program acara seperti SpongeBob, Dora The Explorer, dll. Yang intinya, mengajak anak-anak umur balita sampai 10 tahun belajar sambil bermain.
Aspek pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Neil Postman sebenarnya dapat dikemas menarik sehingga dapat dijual kepada publik. Banyak bahan-bahan yang bisa diangkat dari keragaman suku dan budaya di Sumut dalam bentuk informasi pendidikan yang menghibur (edutainment). Para pengelola televisi lokal dapat memanfaatkan tenaga-tenaga lokal mulai dari budayawan, seminan, jurnalis, dan lain sebagainya untuk mengisi program tayangan televisi yang lebih ramah anak dan keluarga. Televisi lokal dapat meniru apa yang telah dilakukan oleh salah satu televisi lokal lainnya yang ada di Indonesia yang menyajikan tayangan dengan sangat baik dan sarat dengan nilai-nilai religi, moral, motivasi, pendidikan dan dan hiburan.
Saya yakin warga Indonesia akan lebih menghargai karya-karya yang lebih menonjolkan aspek moral, humanis dan pendidikan ketimbang menonjolkan aspek kekerasan, hedonisme, cabul, pornoaksi, pergunjingan, dan lain sebagainya. Para pengelola televisi juga tentunya punya keluarga yang pastinya tidak mau jika keluarganya juga meniru dari tayangan buruk yang mereka sajikan. Apabila para pengelola televisi lokal itu dapat merespon kebutuhan publik terhadap tayangan yang baik, saya berkeyakinan demokratisasi di bidang penyiaran itu akan memberikan dampak positif pula bagi industri penyiaran dan juga untuk masa depan yang lebih baik untuk anak-anak bangsa kita, Indonesia yang masih berkembang menjadi orang-orang hebat yang bisa membanggakan negara kita.
Edutainment ini juga sudah banyak diusung oleh beberapa TV lokal tetapi mungkin masih tersegmentasi untuk program acara yang disajikan contohnya saluran tv luar Nickelodeon yang bekerja sama dengan Global TV Indonesia dengan menayangkan Program-program acara seperti SpongeBob, Dora The Explorer, dll. Yang intinya, mengajak anak-anak umur balita sampai 10 tahun belajar sambil bermain.
Aspek pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Neil Postman sebenarnya dapat dikemas menarik sehingga dapat dijual kepada publik. Banyak bahan-bahan yang bisa diangkat dari keragaman suku dan budaya di Sumut dalam bentuk informasi pendidikan yang menghibur (edutainment). Para pengelola televisi lokal dapat memanfaatkan tenaga-tenaga lokal mulai dari budayawan, seminan, jurnalis, dan lain sebagainya untuk mengisi program tayangan televisi yang lebih ramah anak dan keluarga. Televisi lokal dapat meniru apa yang telah dilakukan oleh salah satu televisi lokal lainnya yang ada di Indonesia yang menyajikan tayangan dengan sangat baik dan sarat dengan nilai-nilai religi, moral, motivasi, pendidikan dan dan hiburan.
Saya yakin warga Indonesia akan lebih menghargai karya-karya yang lebih menonjolkan aspek moral, humanis dan pendidikan ketimbang menonjolkan aspek kekerasan, hedonisme, cabul, pornoaksi, pergunjingan, dan lain sebagainya. Para pengelola televisi juga tentunya punya keluarga yang pastinya tidak mau jika keluarganya juga meniru dari tayangan buruk yang mereka sajikan. Apabila para pengelola televisi lokal itu dapat merespon kebutuhan publik terhadap tayangan yang baik, saya berkeyakinan demokratisasi di bidang penyiaran itu akan memberikan dampak positif pula bagi industri penyiaran dan juga untuk masa depan yang lebih baik untuk anak-anak bangsa kita, Indonesia yang masih berkembang menjadi orang-orang hebat yang bisa membanggakan negara kita.


No comments:
Post a Comment